Sunday, February 28, 2010

Organic Tenkei Tori Matcha - Yuuki-Cha

I really enjoy the morning ritual preparing a bowl or two of matcha.  Dari ketiga matcha yang telah saya coba, Tenkei Tori dengan mudah menjadi pilihan pertama. It was sooo smooth and sweet.  Sangat-sangat delicious!  Karena kualitasnya yang tinggi, Tenkei Tori bisa dipakai untuk menyiapkan Koicha, matcha dengan konsistensi yang kental yang umumnya disiapkan dalam upacara minum teh. Sesekali saya sempatkan mencoba menyiapkan koicha jika saya membutuhkan suntikan caffeine yang tinggi. It's a very potent stuff karenanya saya hanya minum koicha pada akhir minggu seperti hari ini. 
Menurut Yuuki-Cha, Tenkei Tori merupakan 100% handpicked organic matcha berkualitas unggul dari single estate di Kyoto. Daunnya berasal dari varian samidori dari perkebunan teh yang menkhususkan diri dalam mengembangkan organic tencha selama lebih dari 250 tahun.

Saturday, February 27, 2010

Chai dan Yerba Mate

Chai 
Saat berada di Monterey pada hari Rabu sampai Jum'at kemaren, kembali kami makan malam di Restoran Ambroisa, restoran India yang cita rasanya cocok dengan selera kami berdua. Secangkir Chai pun saya pesan untuk menemani Baigan Bharta (tandoori baked eggplant), Palak Phaneer, Dal Bukhara (black lentil), Dum Aloo (kentang isi buah aprikot kering dan daun mit), saffron rice, dan garlic naan.

Chai (atau teh dalam bahasa Hindi) identik dengan India atau makanan India dan biasanya selalu tersedia di restoran India. Chai umumnya dibuat dari campuran teh hitam yang kuat, susu kental, campuran beberapa rempah a.l. cardamon, kayu manis, jahe, merica dan cengkeh serta pemanis. Konon Chai mempunyai efek menghangatkan dan menenangkan bagi peminumnya apalagi setelah menikmati makanan India yang serat bumbu dan rempah.
Chai yang saya nikmati malam itu memiliki aroma rempah yang kuat dengan rasa yang kompleks. Konsistensi air seduhan mengingatkan saya akan adonan keramik yang meleleh diantara jemari sang potter saat membentuk karyanya. Hm... untung saya suka rasanya.

Yerba Mate
Jenis minuman yang satu ini bukan berasal dari tanaman teh Camellia sinensis, melainkan dari daun Ilex paraguarensis yang dikeringkan, digerus dan kemudian diseduh seperti teh. YM umumnya dikonsumsi di Argetina, Brasil bagian selatan, Paraguay dan Uruguay. 

Pagi tadi adalah untuk pertamakalinya saya mencoba YM. Hujan deras menyertai kami saat meninggalkan rumah adik ipar di Shell Beach sampai ke Honeymoon Cafe untuk menikmati breakfast sebelum melanjutkan perjalanan pulang. YM yang panas dengan rasa astringent dan sedikit pahit yang sesekali muncul merupakan pilihan yang tepat untuk menghangatkan badan selain menjadi padanan yang pas untukd huevo ranchero yang saya pesan. Yum.



Sunday, February 14, 2010

Gyokuro Kanro - Ippodo

Today seemed like a good time to enjoy gyokuro again. We really liked the taste but because of its caffeine content, we only enjoy it in the morning either on weekends or on our day-off. It's a Valentine's Day. This gyo would be perfect to flush fat or calorie from my husband's to-die-for home-made chocolate cake we had earlier :-) 




This time I brewed the leaves in the unglazed houhin Banko-Yaki teapot. The spent leaves look fresh, beautiful green in color and feel very soft to the touch


We slowly enjoyed drinking this gyokuro through its 4th brew with the company of these beautiful 2 dozens roses from hubby. 

Saturday, February 13, 2010

2009 Dong Ding Special Roast



My husband and I tried this for the first time today.  Shiuwen from Floating Tea Leaves in Seattle included a sample of this oolong in my order.  I like the appearance of the dry leaves and it's fun to watch them uncurle beautifully and gradually during each infusion. 




The brew is light golden yellow and has a sweet taste and very smooth.  The color turned out lighter than the color of Shiuwen's liquor I saw on her website. Hers is more amber. Maybe I didn't brew it right or I used less leaves than I was supposed to?  But I really liked the taste and that's what matters most. 




We were able to enjoy consistent flavor and aroma during the first 8 infusions. After that the flavor and aroma started to fade gradually. Then it's my plants' turn to enjoy the 9th and 10th infusion of this oolong.




Friday, February 12, 2010

Japanese green tea in the sky

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia baru baru ini, rasanya beruntung sekali bisa menikmati teh hijau di pesawat yang rasanya boleh dipujikan. Bravo untuk Cathay Pacific yang menjaga kualitas makanan dan minuman yang disajikan. 
Untuk rute penerbangan dari LA ke Hong Kong dan dari Hong Kong ke Jakarta dan sebaliknya, Cathay Pacific menyediakan teh hijau dari Cina dan Jepang dalam menu minumannya. Saya memilih teh hijau Jepang sebagai pedamping setiap makanan yang disajikan selama perjalanan. 

Saturday, January 23, 2010

Organic Yame Matcha

After tasting my first matcha prepared at home, I became addicted and have a bowl of it almost every morning ever since.  Some mornings hubby would join as well.  Yuuki Midori is now all gone. I am currently enjoying organic Yame also from Yuuki-Cha.  According to Yuuki, this matcha is from Okuyutaka and Yabukita varietals and was cultivated in Yame, Fukuoka. It is a tasty matcha with a mellow mouth-feel. But both hubby and I thought that Yutaka Midori has much better taste. 

Saturday, January 16, 2010

Organic Pu-erh and Yunan Fancy

We went to Peet's again today and wanted to try something new. So we ordered pu-erh. In case we didn't like it, as a back-up, we also got Yunan Fancy, China black tea. 

Ancient Trees Organic Pu-erh
When our order were put on the table, I was a little bit intimated by the color of the liquor. It was bold, thick, very dark and didn't look appealing at all. Did we order tea or coffee? The aroma was so powerful and unpleasant. I was expecting to taste something bitter and strong but I was pleasantly surprised to find it actually tasted very smooth and was not bitter at all. I liked the fact the this tea is Fair Trade certified and 100% organic.

Yunan Fancy
I found this tea not as smooth as pu-erh, but has a more body and sweet taste. A little bit too strong for us. Maybe it was steeped too long? But after adding a little bit of milk and sugar, we liked it. This could become my morning tea if I hadn't discovered matcha.

What Peets.com says:"Yunnan Fancy is made from the broad-leafed variety known as Dayeh, an ancient variety that grows only in this province. In spite of the long pedigree of Yunnan teas, the current style F.O.P. black tea types have only been produced for the last 60 years or so. Yunnan Fancy has a full body and rich flavor, and it is a popular tea with the people who work at Peet’s. While the aroma is toasty, floral, and woodsy, the flavor is honey-sweet with firm fruity and spicy notes."

Sunday, January 10, 2010

Lion Mountain Keemun and Snow Leopard White Tea

Lion Mountain Keemun
Setelah sekian lama hanya minum teh hitam yang decaffeinated dan sekarang perlahan-lahan mencoba beralih kembali ke teh hitam biasa, pagi ini saya dan suami mencoba Keemun, teh hitam dari Cina di Peets Coffee & Tea.  Seperti biasa teh disajikan dalam teko keramik yang sudah diseduh oleh baristanya.  Kurang lebih satu menit kemudian, seluruh isi teko dituang ke cangkir besar untuk menghindari daun teh di dalam teko mengalami penyeduhan yang berlebihan.  Air seduhan berwarna coklat kemerah2an dan warna kuning keemasan pada bagian luar seperti cincin tipis di sekililing air teh.  Aromanya sangat khas tidak seperti teh hitam dari Assam atau Ceylon. Agak sulit buat saya mendeskripsikan aromanya secara rinci dikarenakan belum canggihnya indera penciuman saya dalam mentrace aroma teh. Walaupun terasa sedikit strong, tidak ada rasa pahit yang menganggu. 



Karena saya agak sensitif dengan caffeine dan sudah cukup banyak teh bercaffeine saya nikmati dari kemarin, Keemun pun berpindah tangan ke suami yang menikmatinya dengan sedikit gula dan susu.  Setelah saya coba ternyata rasanya memang lebih nikmat. Senikmat teh yang saya minum hampir setiap sore dengan teman-teman seflat di Bournemouth awal tahun 90an. Setelah Keemun berpindah tangan, saya berkonsentrasi ke teh putih yang oleh Peets diberi label Snow Leopard. 

What peets.com says:"smooth, sweet taste characteristic of the finest Keemun teas. Hints of pine and incense. Keemun teas are grown in an area with dense forests and many mountain springs, on hills that form the northern tip of the Huang Shan mountain range. Lion Mountain Keemun is a rigorously graded tea, with only the smallest orange pekoe grade leaves selected for this type. The result is a highly uniform leaf, deep green to almost black, with little visible tip. The tea has a complex aroma, containing perfume-like orchid and smoky incense notes, while the cup is rich and concentrated with sweet, flinty, plum-like flavors. Keemuns are the best keeping of all black teas, mellowing with age but keeping their sweet and aromatic character." 



Snow Leopard
Teh putih yang betul-betul smooth, light dan mempunyai clean taste ini berasal dari Fujian, Cina. Daun teh Snow Leopard aka Snowbud ditutupi semacam debu halus berwarna putih. Rasanya sangat mellow dan relaxing. Saking enaknya, tidak terasa tiga cangkir teh Peets yang cukup besar dihabiskan dengan mudah. 



What peets.com says: "Snow Leopard is the finest quality white tea of the style known in China as Pai Mu Tan, and is made from specially selected varietals of the tea bush. White teas go through minimal processing, but are highly dependent on environmental conditions for their quality. Plucking must occur in spring when the “flush” is at the correct size, and there is no rain or dew on the leaves. The fresh-plucked leaves are first briefly withered in direct sunshine, and then brought into open-air sheds for full withering/drying for a couple of days, where the wind moving over the tea is regulated by shutters on the shed walls. The final removal of moisture is done by very low baking. The resulting leaf style is open and irregularly shaped, composed of whole wilted leaves with whitish tips. Snow Leopard is smooth, with a fragrance reminiscent of herbs, fresh grass, and flowers, finishing with a white grape sweetness." 

Saturday, January 09, 2010

Golden Dragon and Ti Kwan Yin Oolong

Gara-gara menikmati oolong di Tea Habitat minggu lalu, kami berdua jadi ketagihan tapi malas untuk kembali ke Tea Habitat lagi, maklum lokasinya agak jauh untuk ukuran kami berdua :-) Jadilah kami balik ke Peet's di dekat rumah untuk mencoba oolong mereka. Saya memilih Golden Dragon sementara suami mencoba Ti Kwan Yin. Untuk rasa kedua oolong ini tidak mengecewakan tapi tentunya tidak fair jika membandingkan keduanya dengan oolong dari Tea Habitat.


Golden Dragon Oolong
Termasuk salah satu Rare Teas-nya Peet's. Rasanya manis dan tidak ada rasa pahit sama sekali.  Air seduhan berwarnanya berwana coklat kemerahan.




Peets's on Golden Dragon Oolong: "Golden Dragon Oolong is our top quality Formosa tea, with a distinctive sweet, dry, peach-pit flavor and floral aroma. This tea receives more attention from its planting through leaf processing than almost any other tea on earth. Bushes set aside for growing Golden Dragon Oolong are grown in shade to slow the leaf growth and develop unique properties. Unlike other fine teas, the leaves are allowed to grow longer prior to plucking, and instead of two leaves and a bud, three leaves and a bud are plucked. After infusion, one can pick out of the pot entire leaf bud sets, still intact from the moment of plucking. To make the tea, the leaves are first withered in the sun for two hours. Then, several pounds of leaf are wrapped in cotton and hand-pressed, so as not to tear the leaves. The leaves are then unwrapped and allowed to wither and oxidize in shade; then all three steps are repeated multiple times. To finish the tea, the leaves are first pan-fired, graded, then finally fired in baskets over hot coals." 


Ti Kwan Yin
Rasanya agak kompleks dan sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Kami berdua sepakat TKY terasa lebih 'mild' dari GDO. Untuk kami berdua yang masih awam soal oolong, TKY terasa lebih cocok. 


Peet's on Ti Kwan Yi: "Ti Kwan Yin translates as "Iron Goddess of Mercy," and is the most famous oolong tea produced in mainland China’s Fujian province. The bushes grown for producing this tea are special varietals unique to this province, where hundreds of small tea farmers dot the mountainous terrain. Ti Kwan Yin is a "greener" style of oolong than the Formosa teas, with perhaps half the degree of leaf oxidation, and a flavor that tends much more toward the vegetal. The aroma of this tea can be very complex, with hints of orchid, herbs, nuts, melon and even candle wax commonly made reference to by tea tasters. Ti Kwan Yin is easily recognized by its dark green color, large leaves, and unique crumpled appearance." 



Saturday, January 02, 2010

Dan Cong Oolong - Tea Habitat

Pagi ini selesai belanja mingguan di Farners Market, suami dan saya segera meluncur ke Tea Habitat di Rancho Palos Verdes untuk mencoba tea tasting Phoenix single bush (Dan Cong) oolong Tea mereka. Jika saya tidak salah mengerti jenis teh oolong ini dipanen dan diproses dari pohon-pohon teh yang sudah sangat tua yang hanya berasal dari satu varian: Song Zhong atau varian Song (dari Dinasti Song) di pegunungan Phoenix (Feng Huang Shan) di Cina. Karenanya teh ini dinamakan single bush oolong atau Dan Cong.  Jenis oolong ini hanya dipanen satu kali setiap tahun pada bulan April. 


Dari 6 menu pilihan Tea Tasting Flights yang tersedia, kami memilih Age of Tree Flight yang terdiri dari Zhong Ping Xiong Di Jai - Little Brothers, Li Jai Ping Lao Cong dan Song Zhong Jai - Song Varietal. Semua hasil panen bulan April 2009.  Teh disajikan secara Gong Fu dengan 6 seduhan untuk setiap jenis teh. Total 18 seduhan teh kami habiskan dalam waktu kurang dari 2 jam.


Zhog Ping Xiong Di Jai dari desa Zhong Ping dari pohon teh yang sudah berumur 80 tahun dan berada diketinggian 980 meter dari permukaan laut.  Seduhan teh berwarna kuning pucat dan sangat bening.  Rasanya begitu kompleks, manis, smooth dan mellow.  


Li Jai Ping Lao Cong dari desa Li Jai Ping dari pohon teh yang berumur 150 tahun dan berada pada ketinggian 1200 meter dari permukaan laut. Seduhan juga berwarna kuning pucat dan bening, terasa lebih manis dari Xiong Di Jai serta lebih mellow. Suami dan saya sepakat menjadikan Li Jai Ping Lao favorit.  


Song Zhong Jai, dari desa Da An dari pohon teh berusia 347 tahun yang berada diketinggian 1100 meter dari permukaan laut.  Warna seduhan agak sedikit lebih pucat dibandingkan dengan kedua teh yang kami coba sebelumnya tapi rasanya tidak kalah nikmat dan terasa menyegarkan.  Wangi daun hasil seduhan terasa lebih kuat dibandingkan dengan kedua teh yang kami coba sebelumnya.







Friday, January 01, 2010

Jasmine Downy Pearls

Hari pertama ditahun 2010 tiba-tiba ada keinginan untuk menikmati jenis teh baru yang belum pernah saya coba. Karena tidak ada kedai teh yang buka hari ini, Peet's Coffee & Tea yang tidak jauh dari rumah menjadi pilihan karena mereka menyediakan daun teh kering dalam menu tehnya.  Mencoba teh baru bukan di kedai teh yang sesungguhnya tentulah beresiko.  Tapi saya sudah berniat untuk tetap menikmati teh yang disiapkan barista di Peet's tanpa mengetahui apakah teh diseduh dengan cara yang benar dan semestinya :-)  
Suami pesan es teh, minuman kesukaanya. Sementara saya ingin mencoba teh hijau Jasmine Downy Pearls yang mereka katagorikan sebagai "rare teas".  Saat memesan, saya lupa minta diperlihatkan teh keringnya sebelum diseduh jadi tidak sempat mencium aromanya.  Dari gambar yang ditampilkan di website Peets.com yang saya intip saat menyiapkan tulisan ini, terlihat daun tehnya berbentuk bulat kecil yang memekar saat diseduh. Tentunya akan sangat menarik menyaksikan proses penyeduhan teh ini. Sayang tehnya disajikan dalam teko keramik yang tidak tembus pandang.  Jadi saya tidak bisa menyaksikan saat daun teh memekar.  I should have brought my glass teapot to brew it myself here! 

Dari hasil seduhan selama dua menit, keluar aroma melati yg menyenangkan. Permulaan yang bagus. Warna seduhan pertama kuning mendekati oranye seperti warna aprikot, tegukan pertama terasa sangat smooth dan lembut membelai.  Masih mempelajari rasa teh, saya coba lagi beberapa tegukan, ternyata semakin lama terasa semakin enak tanpa ada rasa sepet atau after taste yang pahit. Ampas teh terasa lembut. The best Jasmine tea I've ever tasted. Seduhan kedua masih terasa smooth, lembut tapi sedikit diikuti rasa pahit yang sama sekali tidak merusak rasa. After taste terasa lingered dalam hitungan detik. Warna seduhan kedua sedikit lebih gelap (foto diatas) mendekati warna coklat.  Mungkin akibat terlalu lama menyeduhnya? Saya tidak punya informasi tentang waktu yang semestinya dibutuhkan untuk seduhan kedua bagi teh ini.  Walaupun bukan penggemar teh melati, secara keseluruhan saya suka teh ini. Hari ini saya coba sandingkan Jasmine Downy Pearls dengan bran currant muffin juga dari Peet's Coffee & Tea yang ternyata cocok. 


Peets.com on Jasmine Downy Pearls:  "This is a unique and beautiful tea from Fujian province, China. To make this tea, women selectively pluck only the youngest leaves, covered with a fine down. Three leaves are rolled together into a spherical "pearl" and then wrapped in silk mesh and dried by fire to set the form. Each pearl is streaked with the pale white down of the buds. Scenting the pearls twice with fresh jasmine flowers gives the finished tea its final character."

Wednesday, December 30, 2009

Red Rose Tea - Afternoon Tea

Gerimis yang turun sejak pagi hari ditambah udara dingin mengantar saya dan suami ke Tudor House  siang ini.  Pilihan menu jatuh ke Afternoon Tea berupa 4 finger sandwiches (cream cheese herb & walnut, cucumber & cream cheese, curried chicken salad and tuna salad) scones with raspberry jam & Devon cream, petit fours and speciality tea or coffee.   Untuk tehnya saya pilih Red Rose Original sementara suami pilih Typhoo.  Typhoo merupakan salah satu merek teh populer dari Inggris sementara Red Rose awalnya perusahaan teh dari Canada yang sekarang berada dibawah bendera Redco Foods.  Red Rose hanya menggunakan teh dari 4 negara, Sri Lanka, Kenya, India dan ... Indonesia! 


Teh datang dalam teko keramik berwana biru tua, agak sedikit kecewa begitu melihat teh yang disajikan berupa teh celup, bukan teh seduh.  Seduhan berwarna cokat kemerah2an dengan aroma menyenangkan.  Tegukan pertama tanpa gula, tanpa susu terasa smooth. Rasa manis tampil secara samar-samar dengan rasa pekat yang hampir tidak terdeteksi.  Saat seduhan teh pertama tersisa setengah cangkir, saya coba dengan sedikit susu, rasa teh sedikit melemah.  Cangkir kedua dan ketigapun akhirnya dinikmati tanpa gula atau susu untuk menemani sandwich dan scones yang dipesan.  Secara keseluruah teh celup Red Rose tidak terlalu mengecewakan,  jauh lebih enak dari teh celup PG Tips atau Tetley. 



Wednesday, December 23, 2009

Yuuki Midori Matcha

Hari ini untuk pertama kalinya saya menikmati matcha yang saya siapkan sendiri.  Hasilnya ternyata tidak mengecewakan, berbuih sebagaimana mestinya dan yang lebih penting, saya suka rasanya, pahit khas rasa teh hijau, creamy dan smooth seperti rasa matcha yang saya ingat. Keasyikan menikmati sampai lupa memfoto matcha sebelum diminum.  Hanya sempat memfoto sisa-sisanya yang tertinggal  di dasar chawan.



Menurut Mutsuko Tokunaga dari World Green Tea Association dalam New Tastes in Green Tea, matcha adalah bentuk bubuk dari tencha, teh hijau dari Jepang yang dihasilkan dengan cara melindungi tanaman teh dari sinar matahari dua atau tiga minggu sebelum panen dengan menggunakan "screen" yang terbuat dari kain atau jerami.  Saat proses pengeringan, daun teh tidak di digulung, dan semua tangkai dan serat teh dibuang sebelum akhirnya digiling dengan gilingan batu sampai sangat halus. Sebagian orang (termasuk saya) mengasosiasikan matcha dengan Japanese Tea Ceremony lengkap dengan segala aturan dan etiketnya.  Karenanya walaupun saya langsung jatuh cinta dengan rasa matcha saat pertama kali mencicipinya dalam acara Japanese Tea Ceremony di Hakone, Jepang akhir tahun 1991, saya tidak berani untuk mencoba menyiapkan matcha di rumah sampai hari ini.  Keingintahuan lebih dalam tentang teh hijau Jepang sekembalinya dari Kyoto bulan lalulah yang mengarahkan saya kembali ke matcha.


Matcha yang saya coba hari ini adalah organic matcha berlabel "Yuuki Midori" dari Yuuki-Cha.  Menurut Yuuki-Cha, Yuuki Midori berjenis Usucha (thin matcha), 100 % first harvest dan dari perkebunan teh hijau Harima Organic di Uji, Kyoto. Peralatan yang digunakan hari ini kecuali chawan (mangkok untuk meminum matcha) juga saya beli dari Yuuki-Cha.  Sepertinya mulai hari ini Yuuki Midori akan menjadi my morning beverage.

Saturday, December 19, 2009

Gyokuro Kanro

Setelah kyusu yang dipesan lewat Yuuki-cha tiba dengan selamat, hari ini terlaksanalah niat untuk menikmati Gyokuro yang dibeli di toko Ippodo di Kyoto bulan lalu.  Ini adalah pertama kalinya saya menikmati Gyokuro hasil dari seduhan daun teh.  Sebelumnya saya hanya minum teh celup Gyokuro dari Fukujuen, juga perusahaan teh dari Kyoto.  Gyokuro yang artinya adalah jade dew merupakan teh hijau Jepang berkualitas tinggi dengan kadar caffeine and chlorophylnya juga lebih tinggi dibandingkan teh hijau Jepang lainnya. 

Pembungkus kertas yang cantikpun dibuka dengan hati-hati,  50 gram Gyokuro dikemas dalam aluminium foil berwarna putih mengkilat dengan gambar kendi penyimpan teh (lambang Ippodo) berwarna silver dengan tulisan kanji berwarna merah didalamnya.  Kemasan sederhana namun sangat artistik.  Dalam bungkusan disertakan juga sendok plastik untuk menyendok teh dan leaflet cantik bergambar bunga Iris yang berisi petunjuk untuk menyiapkan dan menikmati Gyukoro.
  
10 gram Gyokurop yang berwarna hijau tua diseduh dengan 80ml air bersuhu 140ºF (60ºC) dalam kyusu. Karena tidak mempunyai termometer yang tepat untuk mengukur suhu air, saya menggunakan metoda teacup transfer untuk menurunkan suhu air mendidih ke suhu yang diperlukan dengan menggunakan 3 cangkir teh.  Seduhan pertama selama 90 detik menghasilkan air seduhan hijau bening, terasa smooth dan beraroma seaweed. Tidak terasa jejak rasa pahit sedikitpun, rasa seaweed muncul secara perlahan. Rasa teh tidak berubah sama sekali setelah seduhan kedua dan ketiga. Saya dan suami langsung menyukai teh ini dan merasa sedikit menyesal tidak membeli banyak. Tapi mungkin ada baiknya juga karena tertera tanggal kadaluwarsa 20 April 2010.





Saturday, December 05, 2009

Green Tea at Kawamatsu Restaurant, Asakusa




Both hubby and I love unagi (eels). While walking around Asakusa in Tokyo last month, we found one restaurant that serves broiled unagi. Once inside, we realized we were the only two customers who are not Japanese! That's a good sign and we're glad to find a restaurant that is not only visited by tourists. The unagi meals was yummy. The ocha served for free was also very delicious. It might be a sencha, but I was not sure and couldn't find out from the wait staff as none of them speaks English. Our Japanese is very limited to ocha, unagi and some greetings which didn't help either. Wish we spoke Japanese! 

Ippodo, Kyoto

While in Kyoto last month, we visited Ippodo Tea Store on Teramachi-dori in the heart of Kyoto. The store was founded in year 1717 at the same exact location as it is now. It's overwhelming to see so many selections of Japanese green tea at the store. While not all the staff speak English, they provide several samples in a small tin for visitors to smell and see the leaves. 



We were hoping to visit their Kaboku Tearoom and enjoy the tea we would brew ourselves. But when we got to the store, their tearoom was already closed. So we just hang out at the store smelling different types of tea before deciding what to get. 




Sunday, June 28, 2009

Twinings Tea in the air

I don't remember the last time I had tea from Twinings. So when it was served on the flight from London on our way home from Jordan, I got to try one. Since I am sensitive to caffeine and wanted to be able to fall asleep once we reached home, I tried their camomile. It has a good flavor, nice and light. The color of the liquor was light yellow and looked pretty in person than in the picture below. 

Bedouin Tea in the Jordanian Desert


One of the most memorable moment of our trip to Jordan a few months ago was having a sweet Bedouin tea on one summer afternoon on the rock ledge in the middle of Wadi Rum Desert with our Bedouin friends. The tea was prepared by Salim, one of Obeid's sons, in a tin tea kettle then served in small glass tea cups. The tea was very sweet, soothing and had a minty smell. We liked the taste so much that we drank it every time we had a chance. We were told that it's a simple blend of black tea, Bedouin desert herbs (cardamon pods, dried thyme or sage can be used in place of their herbs) and sugar.  

It looks like every Bedouin home has a tea kettle. One morning when we were climbing up the steep paths behind the Royal tombs in Petra, on one of the cliffs surrounded by the rocks, a young teen offered us some teas from his small place, the only house on that cliff. Hubby and I experienced this kind of gestures every where we went. What a hospitality!

Our tea spot & empty kettle


Saturday, April 18, 2009

Sweet Oolong Revolution Tea



Saat ke Palo Alto bulan lalu, sempat mampir di toko teh Teavana.  Setelah mencicipi tiga jenis teh yang berbeda, pilihan jatuh ke Sweet Oolong Revolution Tea karena baunya yang harum. Selain itu campurannya pun terlihat sangat tidak biasa, mengingatkan saya akan campuran potpourri.  Selain teh Oolong dan Rooibos, terdapat potongan pepaya, labu manis, kismis, apel, kapulaga, kayu manis, buah peach, serpihan bunga mawar dan bunga matahari.  What a blend!

Berdasarkan petunjuk, untuk menyeduh 1 satu sendok teh campuran teh, digunakan sekitar 1/4 liter air bersuhu 195 derajat Fahrenheit selama 3 sampai 4 menit.  Air seduhan teh berwarna jingga muda dan berbau harum menenangkan yang merambat ke seluruh ruangan.  Rasa seduhan manis,  fruity, sedikit spicy menghasilkan rasa hangat dan "cozy" saat menikmatinya.

Sunday, December 07, 2008

Tea in Shanghai





During my short visit to Shanghai last month, a group of us went to South Beauty Restaurant in Pudong area for dinner. I ordered white tea and was surprised to find dozens of leaves floating in my cup. That was the first time I was served tea in China. One of my colleagues then explained that was the practice of serving tea in China. The water is boiling anyway, so you wait for a few minutes until the leaves eventually float to the bottom of the cup. But if you don't want to wait, you can use the lid to hold back the leaves being sucked in while sipping your tea. The wait staff then refills your cup throughout your dinner. The tea was delicious. But of course I forgot to ask the name of it :-( 







My cute cup or gaiwan